Dari Head of Engineering
Saya Sunanto. Sudah 20 tahun saya pegang mesin secondary tobacco sebagai mekanik di Secondary Line Sampoerna — di Hauni Protos 80, GDX/GDX1, Molins HLP, dan Focke M350. Bukan dari ruang meeting. Dari lantai, dengan obeng dan dial indicator di tangan. Lebih dari 5 tahun setelahnya saya habiskan sebagai technical trainer, mengajar operator dan tim maintenance membaca mesinnya sendiri.
Saya tahu kenapa Anda membuka halaman ini. Mesin Anda mungkin masih jalan tapi sering trip. Mungkin format change makan tiga shift padahal dulu satu. Mungkin Anda punya frame yang sudah dua tahun di gudang dan procurement OEM bilang lead time parts 18 bulan. Atau Anda hanya ingin tahu apakah ada orang lokal yang benar-benar paham toleransi mesin Anda — bukan general engineering yang mengarang di lapangan.
Saya tidak bisa menjanjikan apa yang belum saya lihat. Tapi saya bisa janji satu hal: kalau kami menyentuh frame Hauni atau Focke Anda, saya yang turun memastikan pekerjaannya — bukan kirim orang lalu hilang. Itu cara kami menerima frame GDX-1 Series 100 kondisi 20% di tahun 2023, ketika opsi klien hanya scrap atau beli baru, dan menyerahkannya kembali sebagai mesin produksi 180 packs/menit dalam 8 bulan — 10 bulan lebih cepat dari jalur OEM.
20 tahun bukan angka pemasaran. Itu jam terbang. Dan kalau Anda kenal teknisi senior di Sampoerna, kemungkinan besar mereka kenal nama saya — tanyakan.
Yang kami tawarkan sederhana: panggilan 30 menit. Anda ceritakan mesin apa, masalah apa, target apa. Saya dengarkan secara teknis. Kalau memang ada yang layak dikerjakan, kita lanjut ke survey lapangan berbayar — laporan tertulis dengan kuantifikasi kerugian produksi dalam IDR. Kalau tidak ada, kita selesai di situ. Tanpa drama.
Untuk jadwal, Rizky yang atur — tombol di bawah ini langsung ke kalendernya. Tapi yang Anda ajak bicara soal mesin, itu saya.
— Sunanto, Head of Engineering · Aldikarya Intisar